Senin, 09 April 2018

SAGAH TV

Sagah tv merupakan aplikasi yang menayangkan siaran sepak bola secara online SAGAH TV

ARTI MENGANGKAT JARI TELUNJUK

HAKIKAT MENGANGAT JARI TELUNJUK DALAM SHOLAT
Diangkatnya jari telunjuk saat shalat agar terkumpul isyarat TAUHID dalam dirinya baik secara keyakinan, ucapan dan perbuatan.

( ووضع يديه في ) قعود ( تشهديه على طرف ركبتيه ) بحيث تسامته رؤوس الأصابع ( ناشرا أصابع يسراه ) مع ضم لها ( وقابضا ) أصابع ( يمناه إلا المسبحة )
( قوله إلا المسبحة ) إنما سميت مسبحة لأنها يشار بها للتوحيد والتنزيه عن الشريك وخصصت بذلك لاتصالها بنياط القلب أي العرق الذي فيه فكأنها سبب لحضوره

Dan meletakkan kedua tangannya dalam duduknya pada dua tasyahhudnya dipinggir kedua lututnya sekira sejajar dengan pucuk-pucuk jemarinya, dengan membeber dan mengumpulkan jemari-jemari tangan kirinya serta menggenggam jemari-jemari tangan kanannya kecuali jari penunjuk.
(Keterangan kecuali jari penunjuk) dinamakan musabbihah karena dia adalah jemari yang digunakan untuk memberikanisyarat pada tauhid dan penyucian Allah dari segala kesyirikan, dan dalam tasyahhud (tahiiyat) jari yang dipakai hanya jari penunjuk karena pertautannya dengan hati dalam arti didalamnya terdapat otot yang bertautan dengan hati, dengan demikian diharapkan dapat berakibat khusyu’nyaseseorang dalam shalat.
I’aanah at-Thoolibiin I/174
Dalam keterangan kitab lain dijelaskan jari tengah bertautan dengan alat vital.

وَيُدِيمُ رَفْعَهَا وَيَقْصِدُ مِنْ ابْتِدَائِهِ بِهَمْزَةِ إلَّا اللَّهُ أَنَّ الْمَعْبُودَ وَاحِدٌ ، فَيَجْمَعُ فِي تَوْحِيدِهِ بَيْنَ اعْتِقَادِهِ وَقَوْلِهِ وَفِعْلِهِ .

Dan langgengkan mengangkat jari, berkehendaklah saat mulai mengangkatnya ketika hamzahnya lafadz ILLA ALLAAH bahwa Dzat Yang Disembah adalah Esa, dengan demikian terkumpulah segala tauhid dalam dirinya baik antara keyakinan, ucapan dan perbuatan.
Hasyiyah al-Bujairomi ala al-Khothiib IV/394
Wallaahu A’lamu Bis Showaab

DOA SAKIT GIGI

DOA KETIKA SAKIT GIGI
Baca doa ini tiga kali dengan menaruh tangan pada gigi yang sakit
بسم الله اللهم أذهب عني شر ما أجد بدعوة نبيك الطيب المبارك المكين عندك 
 BISMILLAAHI ALLAAHUMMA ADZHIB ‘ANNII SYARRO MAA AJIDU BI DA’WATI NABIYYIKA ATTHOYYIBI ALMUBAAROKI ALMAKIINI ‘INDAKA  
Ya Allah hilangkanlah dariku keburukan dari apa yang ku rasakan dengan permintaanNabiMu yang mempunyai pengaruh dan diberkati disisiMu...
Berdasarkan hadits ini 
(حديث مرفوع) حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ إِبْرَاهِيمَ الدَّوْرَقِيُّ ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عُمَرَ بْنِ جَبَلَةَ ، حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ النُّعْمَانِ ، عَنْ كَثِيرٍ أَبِي الْفَضْلِ ، قَالَ : أَخْبَرَنِي أَبُو صَفْوَانَ ، شَيْخٌ مِنْ أَهْلِ مَكَّةَ ، عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ أَبِي بَكْرٍ ، قَالَتْ : خَرَجَ عَلَيَّ خُرَّاجٌ فِي عُنُقِي ، فَتَخَوَّفْتُ مِنْهُ ، فَأَخْبَرْتُ بِهِ عَائِشَةَ ، فَقَالَتْ : سَلِي النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , قَالَتْ : فَسَأَلْتُهُ ، فَقَالَ : ” ضَعِي يَدَكِ عَلَيْهِ ، ثُمَّ قُولِي ثَلاثَ مَرَّاتٍ : بِسْمِ اللَّهِ ، اللَّهُمَّ أَذْهِبْ عَنِّي شَرَّ مَا أَجِدُ بِدَعْوَةِ نَبِيِّكَ الطَّيِّبِ الْمُبَارَكِ الْمَكِينِ عِنْدَكَ بِسْمِ اللَّهِ ، قَالَتْ : فَفَعَلْتُ ، فَانْحَمَصَ
Semoga bermanfaat Amin3x Ya rabbul aalamin

TERJERAT NIKMAT KEMAKSIATAN

KENIKMATAN SEBUAH KEMAKSIATAN
Ada saatnya orang yang sering melakukan maksiat akan kehilangan kenikmatan dalam kemaksiatan itu sendiri. Namun di saat yang sama ia merasa sulit keluar dari jerat-jerat kemaksiatan itu karena telah menjadi kebiasaannya.
Semua itu disebabkan oleh kenikmatan fisik manusia di dunia ini yang memiliki batas maksimal. Apabila batas maksimal itu telah tercapai maka manusia akan mengalami titik jenuh. Pada titik jenuh itulah banyak orang dilanda kegelisahan yang amat dahsyat. Ia merasa kehilangan sesuatu yang amat berharga dalam hidupnya. Ada yang kemudian menyesal lalu kembali, namun tak jarang yang kemudian tersesat sampai mati. Wal ‘iyadzu billah.
Sebaliknya, orang-orang yang tenggelam dalam lautan ibadah telah mendapatkan surga sebelum surga yang hakiki. Jasad-jasad mereka tersiksa di dunia tapi hati-hati mereka terbang melayang menikmati alam yang penuh keindahan dan kenikmatan. Jiwa mereka tak sadarkan diri dengan segala beban dan siksaan yang mendera jasad. Salah seorang di antara mereka membocorkan rahasia itu, “Seandainya para raja merasakan apa yang kami rasakan, pasti mereka akan merebutnya meskipun harus dengan pertempuran.”
Sungguh indah nasehat ulama:
أخي الكريم: إن جنة المؤمن في الدنيا في صدره، وإن عاش فقيراً سجيناً، وفي الآخرة جنته في روحه وبدنه. وإن نار الكافر في الدنيا في قلبه، وإن عاش في نعيم المال والسلطان، وسائر متع الدنيا، وفي الآخرة ناره في روحه وبدنه. أخي الكريم: لذة الدنيا وشهواتها فانية، يسبقها تعب وجهد في تحصيلها، ويعقبها ألم وحسرة وضيق بعد المتعة بها.
“Wahai saudaraku yang mulia, sungguh surga seorang mukmin di dunia ini terletak di dalam dadanya, meskipun ia hidup miskin dalam penjara. Di akhirat nanti, surganya berada di dalam jiwa dan raganya.
Dan sungguh neraka orang kafir di dunia ini terletak di dalam hatinya, sekalipun ia hidup dalam kenikmatan harta dan tahta serta seluruh kenikmatan dunia. Di akhirat nanti, nerakanya berada di dalam jiwa dan raganya.
Wahai saudaraku yang mulia, kenikmatan dan kelezatan dunia ini hanyalah sebentar saja dan fana. Sulit dan melelahkan untuk meraihnya tapi sakit dan menyiksa di akhirnya.”
Tapi sayang seribu sayang, penyesalan selalu datang di akhir waktu. Di saat segalanya sudah tidak berlaku. Ia selalu hadir saat segalanya telah berakhir.
Amatlah bodoh orang yang tidak mengetahui hakikat ini. Lebih bodoh lagi orang yang tahu tapi tidak lantas bangkit, bergerak dan mengambil sikap yang tepat.
Semoga Allah membimbing kita untuk tetap di jalan-Nya sampai ajal menjemput kita. Amiin.

PEMALU DAN KECERDASAN SEORANG IMAM

KISAH SEORANG PEREMPUAN YANG PEMALU
Suatu ketika, tatkala al-Imam Abu Hanifah an-Nu’man radliyallahu’anh sedang duduk-duduk untuk memberikan pelajaran dan nashehat kepada para murid-muridnya, tiba-tiba datanglah seorang perempuan yang kemudian duduk lalu dengan penuh tatakrama, bergerak mendekati tempat sang Imam.
Setelah cukup dekat, tiba-tiba perempuan tersebut mengeluarkan dari kantong bajunya sebuah apel yang dikedua sisi buah apel tersebut sebagian berwana merah dan sebagian lagi berwarna kuning lalu meletakkan apel tersebut di depan sang Imam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Kemudian dengan tenang sang Imam mengambil buah apel tersebut lalu membelahnya menjadi dua.
Setelah sang Imam melakukan hal tersebut, tiba-tiba perempuan itu bangun lalu beranjak pergi meninggalkan majelis sang Imam.
Murid-murid sang Imam yang menyaksikan kejadian itu tak habis pikir, apa gerangan yang dikehendaki oleh perempuan tersebut sehingga berperilaku demikian di hadapan mereka dan sang Imam.
Tak tahan dengan tanda besar yang menghinggapi kepala para murid-murid tersebut, salah seorang diantara mereka memberanikan diri untuk ambil suara menanyakan apa gerangan yang dikehendaki oleh si perempuan sehingga berbuat demikian.
Kemudian dengan bijak dan penuh wibawa sang Imam menjelaskan;
“Sesungguhnya perempuan yang kalian saksikan tadi sedang mengalami haidl yang kadang-kadang darah haidlnya berwarna merah seperti sebagian sisi dari apel ini dan terkadang berwarna kuning seperti sebagian sisi yang lain.”
“Dia ingin menanyakan padaku, mana diantara kedua warna darah tersebut yang masuk kategori haidl dan mana yang masuk kategori suci?!”.
“Tetapi karena sifat malunya yang besar, dan didorong oleh kesadarannya bahwa menuntut ilmu tidak boleh dikalahkan oleh sekedar rasa malu…maka dia gunakanlah apel tersebut sebagai sarana bertanya padaku.”
“Kemudian aku membelah apel yang dibawanya untuk aku perlihatkan kepadanya bagian dalam dari apel  tersbut.”
“Hal itu aku lakukan, karena aku bermaksud mengajarkan kepadanya, bahwasanya kamu belum suci dari haidl sebelum kamu melihat cairan yang berwarna putih sebagaimna warna dari bagian dalam apel tersebut.”
“Setelah aku lakukan itu, dia langsung memahaminya, kemudian perempuan tersebut beranjak pergi.”
**Cerita ini diterjemahkan secara sangat bebas dari cerita berbahasa arab yang berjudul Hayya’ Imra’ah yang di dapat dari  http://alharary.com , semoga bermanfaat dan menjadi I’tibar bagi kita semua.
اللهم صل وسلم على حبيبنا و قرة أعيننا سيدنا محمد و على أله وأصحابه أجمعين

JIN YANG PALING DEKAT DENGAN KITA

MAHLUK YANG PALING DEKAT DENGAN MANUSIA
Jin Qorin adalah jin yang selalu dekat menyertai orang sejak lahir hingga kematian. Qorin inilah yang paham betul dengan tipikal, kebiasaan dan kepribadian orang yang disertainya sehingga tidak aneh jika Qorin sanggup menjawab hal-hal yang bersifat intim dan privasi serta bisa meniru gaya, perilaku bahkan menyamar menjadi orang yang disertainya ketika hidup. Dalam sabdanya Rasulullah SAW telah menegaskanmengenai eksistensi Qorin ini
Berikut beberapa hadits yang menunjukkan keberadaan Jin Qarin :
“Tidaklah seorang pun dari kalian kecuali telah ditetapkan JIN yang menyertainya” (HR. Muslim dan Ahmad).
Berkata Qataadah “Dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw bersabda: “Setiap keturunan Adam, pasti disentuh oleh syaithan ketika lahirnya kecuali Siti Maryam dan putranya 
(Nabi Isa)” (HR. Muslim).


بَاب ذكر القرينمُسلم : حَدثنَا عُثْمَان بن أبي شيبَة وَإِسْحَاق بن إِبْرَاهِيم قَالَ إِسْحَاق : أَنا وَقَالَ عُثْمَان : ثَنَا جرير ، عَن مَنْصُور ، عَن سَالم بن أبي الْجَعْد ، عَن أَبِيه ، عَن عبد الله بن مَسْعُود قَالَ : قَالَ رَسُول الله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – : ” مَا مِنْكُم من أحد إِلَّا وَقد وكل بِهِ قرينه من الْجِنّ . قَالُوا : وَإِيَّاك يَا رَسُول الله ؟ قَالَ : وإياي إِلَّا أَن الله أعانني عَلَيْهِ فَأسلم فَلَا يَأْمُرنِي إِلَّا بِخَير ” .
مُسلم : حَدثنَا مُحَمَّد بن مثنى وَابْن بشار قَالَا : ثَنَا عبد الرَّحْمَن – هُوَ ابْن مهْدي – عَن سُفْيَان . وثنا أَبُو بكر بن أبي شيبَة ، ثَنَا يحيى بن آدم ، عَن عمار بن رُزَيْق ، كِلَاهُمَا عَن مَنْصُور بِإِسْنَاد جرير مثل حَدِيثه ، غير أَن فِي حَدِيث سُفْيَان ” وَقد وكل بِهِ قرينه من الْجِنّ وقرينه من الْمَلَائِكَة ” .
مُسلم : حَدثنِي هَارُون بن سعيد ، ثَنَا ابْن وهب ، أَخْبرنِي أَبُو صَخْر ، عَن ابْن قسيط ، حَدثهُ أَن عُرْوَة حَدثهُ ، أَن عَائِشَة زوج النَّبِي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – حدثته ” أَن رَسُول الله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – خرج من عِنْدهَا لَيْلًا ، قَالَت : فغرت عَلَيْهِ فجَاء فَرَأى مَا أصنع ، فَقَالَ : مَا لَك يَا عَائِشَة ؟ أغرت ؟ فَقلت : وَمَا لي لَا يغار مثلي على مثلك . فَقَالَ رَسُول الله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – : أقد جَاءَك شَيْطَانك ؟ قَالَت : يَا رَسُول الله ، أَو معي شَيْطَان ؟ قَالَ : نعم . قلت : وَمَعَ كل إِنْسَان ؟ قَالَ : نعم . قلت : ومعك يَا رَسُول الله ؟ قَالَ : نعم ، وَلَكِن رَبِّي أعانني عَلَيْهِ حَتَّى أسلم ” .
مُسلم : حَدثنَا شَيبَان بن فروخ ، ثَنَا أَبُو عوَانَة ، عَن سُهَيْل ، عَن أَبِيه ، عَن أبي هُرَيْرَة قَالَ : قَالَ رَسُول الله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – : ” صياح الْمَوْلُود حِين يَقع نزغة من الشَّيْطَان ” .
JIN QARIN
Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang pun dari kalian kecuali telah ditetapkan JIN yang menyertainya, Para sahabat bertanya: “Apakah termasuk Anda juga wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Ya termasuk saya, hanya saja Allah menolong saya sehingga jin itu masuk Islam. Ia (jin tadi) tidak pernah menyuruh saya kecuali untuk kebaikan” (HR. Muslim)
Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada seorangpun kecuali ia disertai oleh seorang qarin (penyerta)dari jin dan seorang qarin (penyerta) dari malaikat” (HR. Muslim)
Rasulullah SAW keluar dari rumah pada malam hari, aku cemburu karenanya. Tak lama ia kembali dan menyaksikan tingkahku,lalu ia berkata: “Apakah kamu telah didatangi syetanmu?” “Apakah syetan bersamaku?” Jawabku. “Ya, bahkan setiap manusia.” Kata Nabi Muhammad SAW. “Termasuk engkau juga?” Tanyaku lagi. “Betul, tetapi Allah menolongku hingga aku selamat dari godaannya.” Jawab Nabi (HR. Muslim). 
Rasulullah SAW bersabda, “Jeritan bayi ketika lahir adalah karena mendapat tusukan setan.” (HR. Muslim).

SHOLAWAT KHUSAIRIYAH

                    بسم الله الر حمن الر حيم .الحمد لله ربالعلمي
         اللهم صل وسلم عل سيدنا محمد اْلبشرالمبشر لْلمؤمنين بما قال الله العظيم
                                          َوبشر المؤمنين وان اللهً لاَيُضِيْعُ اَجْرَ اْلمُؤْمنِيْن
ِاَللَّهُمَّ صَلٍّ وَسَلِّمْ عـَلَ سَـيٍـدِناَ مُحَمًدٍالْـبـَشِـيـْرِ اْلمُبَشِّرِلِلذَاكِرِيْنَ بِمَا قَلَ اللّهُ اَلْعَظِيْم
فَاذْكُرُوْنِي اَذْكُرْكُمْ اُذْكُرُوْاأللَّه ذِكْرًا كَشِيْرًا وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَّاَصِيْلأ هُوَاْلَذِى يُصَلِِّيْ
عَلَيْكُمْ وَمَلأئِكَتُهُ لِيُخْرِكُمْ مِّنَ الظُّلُمَاتِ اِلَىَ نُوْرِ  وَكَانَ بالْمُؤْمِنِيْنَ رَحِيْمَا تَحِيَّتُهُمْ
يَوْمَ يَلْقَونَهُ سَلأمَ وَأعَدَّ لَهُمْ أَجْرًا كَرِيْمَا
اَلَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلىَ سَيىِّدِنَا مُحَمَّدٍ اْلبَشِيْرِ الْمُبَشىِّرِ لِلْعَامِلِيْنَ بِمَاقَلَ الَّلهُ اْلعَظِيْمُ اَنّىِي لاَاُضِيْعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِّنْكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ أَوْأُنْثَى وَمَنْ عَمِلَ صَالِحَاًمِـنْ ذَكَرٍ اَوْاُنْثَى وَهُوَمُؤْمِنٌ فَأُولَـَــئِـكّ يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ يُرْزَقُوْنَ فِهَا بِغَيْرِ حِسساَبٍ
اَلَّلهُمَّ صَـلِّ وَسَــلّـِمْ عَلَى سَـيّـِدِناَ مُحَمَّدٍ الْبَـشِـيْرِ الْمُبَـشّـِيْرِ لِلأَوَّبِيْنَ بِمَا قـَالَ اللهُ الْعَـظِيْـمُ
فَإِنَهُ كَانَ لِلأَّوَابِيْـنَ غَفُوْرًا  لَهُمْ مَيَـشَـاَءُونَ عِنْدَ رَبِّهِمْ ذَلِكَ جَزَاءُ الْمُحْسِـنِـيْنَ
اَلَّلهُمَّ صّلِّ وَسَـلّـِمْ عَلَى سَـيّـِدِنَامُحَمَّدٍ الْـبَشِـيٍـْرِ الْمُبَـشّـِرِ لِـتَّـوَّابِـيْنَ بِمَا قَالَ اللهُ الْعَـظِـيْمُ 
إِنَّ اللهَ يُحِـبُّ التَّـوَّابِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَـهِّـرِيْنَ وَهُوَ الَّـذِى يَقْـبَـلُ التَّـوبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَعْفُوا 
عَنِ الـسَـــيّــِئَاَتِ
اَلَّلـهـُّمَّ صّلٍّ وَسَـلّـِمْ عَلـَى سَـيّـِدِنَا مُحَـمَّدٍ الْبَـشِـيْرِ الْـمُـبَـشّـِرِ لِلْـمُـخْـلِـصِـيْنَ بِمّا قَالَ اللهُ 
الْـعَـظِـيْـمِ فَمَنْ كاَنَ يَرْجُوالِقَاءَرَبِّهِ فَلْـيَـعْـمَلْ عَمَلآً صـَالِحّا وَلاَ يُـشْـرِكْ بِعـِبَـادَةِ رَبّـِهِ أَحَدًا
مُـخْــلِـصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ
اَلَّلـهُـمَّ صَلِّ وَسَـلِّمْ عَلىَ سَـيّـِدِنَا مُـحَـمَّدٍ الْبَـشِـيْـرِ الْمُـبَـشّـِرِ لِلْمُـصَلّـِيْنَ بِمَا قَالَ اللهُ الْـعَظِيْمِ
وَاَقِـمِ الـصَّلاَةَ اِنَّ الصَّلاَةَ تَنْهَى عَنِ الْفَـحْشَاءِ وَالْمُنْكَرْ اَقِـمِ الصَّلاَةَ وَأْمُرْ بِالـمَعْرُفِ وَانْهَ
عَـنِ الْـمُـنْـكَـرِ وَاصْبِرْ عَلىَ مَاأَصَـابَكَ اِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ اْلأُمُوْرِ
اَللَّهـُمَّ صَلّـِى وَسَـلّـِمْ عَـلَ سَـيّـِـدِنَا مُحَـمَّدٍ البَـشِـيْـرِ الْمُـبَـشّـِرِ لِلْخَاشِعِـيْنَ بِـمَا قَالَ اللهُ الْعَظِيْمُ
وَاسْـتَعِيْـنُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاةِ وَإِنَّـهَـا لَـكَـبِيْرَةٌ اِلاَّ عَلىَ الْـخَـاشِـعِيْنَ اَلَّذِيْنَ يَـظُـنُّونَ اَنَّهُـمْ
مُلاَقُوْارَبِّهِمْ وَاَنَّـهُمْ اِلَيْهِ رَاجِعُـوْنَ الَّذِيْنَ يَذْ كُرُوْنَ اللهَ قِـيَـامًا وَقُعُودًاوَّعَلَىَ جُـنُـوبِهـِمْ 
وَيَـتَـفـَكَّـرُوْنَ فِيْ خَلْـقِ الـسـَّمَـوَاتِ وَاْلاَرْضِ رَبَـنَـامَـا خَلَـقْ هَذَا بَـاطِلاً سُـبْحَانَـكَ فَـقِـنَا
عَـذَابَ الـنَّـارْ
اَلَّلـهُـمَّ صَـلِّ وَسَـلِـمْ عَـلىَ سَـيّـِدِنَامُـحَـمَّـدٍالْـبَـشِـيْـرِالْـمُـبَـشّـِيْرِلِلـصَّابِـرِيْنَ بِـمَـاقَالَ اللهُ
اْلـعَـظِيْـمُ اِنَّـمَايُـوَفَّى الـصَّـابِرُوْنَ أَجْـرَهُـمْ بِـغَـيْـرِحِـسَـابِ أُوْلَــئِـكَ اْلـذِيـْنَ هَدَاهُـمُ اللهُ 
وَأُلَـئِـكَ هُمْ أُوْلُوااْلأَالْـبَـابْ
اَلَّلـهُـمَّ صَـلِّ وَسَـلِّمْ عَـلىَ سَـيّـِدِنَامُحَـمَّـدٍاْلـبَشِـيْـرِ اْلـمُـبَـشّـِرِلِلْـخَـائِـفِـيْنَ بِـمَـا قَـالَ اللهُ اْلـظِيْـمُ
وَلِـمَـنْ خَـافَ مَـقَـامَ رَبّـِهِ وَنَـهَـى الـنَّـفْـسَ عَـنِ اْلــهَـوَى فَإِنَّ جَـنَّـةَ هِـيَ اْلـمَـعْـأْوَى
اَلَّلـهُـمَّ صَـلّـِى وَسَـلّـِمْ عَـلىَ سَـيّـِدِنَا مُـحَـمَّـدٍ الْـبَـشِـيـْرِاْلـمُـبَـشّـِرِ لِلْـمُـتْـقِـيْنَ بِـمَاقَالَ اللهُ 
اْلـعَـظِـيـمُ وَرَحْـمَـتِى وَسِـعَـتْ كُلَّ شَـىْءٍ فَـسَـأََكْـتُـبُـهَا لِلَّذِيْنََ يَـتَّـقـُوْنََ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكاَةَ وَالَّـذِيْنَ هُـمْ بِئـَايَاتِـنَا يُؤْمِـنُوْنَ اَلّذِيْنَ يَـتَّـعـُـونَ الرَّسُـولَ النَّـبِـيَّ اْلأُمِّـيَّ لَهُمْ جَـزَاءُ الضِّـعْـفِ
بِـمَا عَـمِـلُوا وَ هُـمْ فِى الْـعُـرُفَاتِءاَمِـنُـونَ
اَللّهـمَّ صـلِّ وَسَـلّـِمْ عَـلـىَ سَـيّـِدِناَ مُـحَـمَّـدٍ الْـبَـشِـيْرِ الْمُـبـشّـِرِ لِلـمُخْـبِـتِـيْـنَ بِـمَا قَالَ اللهُ الْعَظـيـْمُ   وَبـشّـِرِ الْـمُـخْـبِـتـِيْنَ الَّـذِيْنَ اِذَاذُكِـرَاللهُ وَجِـلَـتْ قُلُـوبُـهُمْ وَالَّذِيْنَ يُؤْتُونَ  مَااَتَـوْاوَقُلُو بُـهُـمْ وَجِـلَـةٌ اَنَّـهُـمْ اِلىَ رَبّـِهِـمْ رَاجِـعُـونَ
اَللّهـمَّ صـلِّ وَسَـلّـِمْ عَـلـىَ سَـيّـِدِناَ مُـحَـمَّـدٍ الْـبَـشِـيْرِ الْمُـبـشّـِرِ لِلـصَّـابِرِيْنَ بِـمَا قَالَ اللهُ 
الْـظِيـْمُ وَبَـشّـِرِ الصَّـبِـيْـرِيْنَ الَّذِيْنَ اِذَآَصَـابَـتْـهُـمْ مُـصِيْـبَـةٌ قَالوُا اِنَّالِلهِ وَإِنَّاإِلَـيْهِ رَاجِـعُـونَ آُولَــئِـكَ عَـلَيْـهِـمْ صَـلَـوَاتٌ مِنْ رَّبّـِهـمْ وَرَحْـمَـةٌ وَاآُوْلـَـئِـكَ هُـمُ الْـمُـهْـتَـدُوْنَ اِنّـيْ جَزَيْـتـهُـمُ الْـيَـوْمَ بِـمَاصَـبَـرُوا أَنَّـهُـمْ هُـمُ الْـفَائِـزُونَ











APA MAKOM SYARIAT,THORIQOT ,HAKIKAT

Apakah makom Syariat(islam),makom Toriqot(iman),makom Hakikat(ihsan)

Kapan  makom syariat di lakukan ....?
Kapan makom Toroqot di amalkan.......?
Kapan makom Hakikat dirasakan.........?

Manusia adalah mahluk yang paling mulia di antara semua mahluk yang di ciptakan oleh ALLAH. ALLAH S.W.T. menciptakan manusia dengan tujuan tertentu dan di bekali dengan rahmat ALLAH yang maha besar dengan di beri Akal pikiran yang tidak pernah di berikan kepada mahluk lain,manusia di ciptakan oleh ALLAH hanya untuk beribadah kepada ALLAH S.W.T,dan beri bekal yang amat sangat banyak untuk keperluan ibadah dan untuk kebutuhan hidup dalam menjalani kehidupan di atas bumi,akan tetapi setelah manusia di turunkan di atas bumi kebanyakan sibuk dengan bekal/hiasan yang telah di berikan oleh ALLAH dan lupa dengan tujuan ALLAH menciptakan dirinya. Di dalam pelaksanaan beribadah kepada ALLAH S.W.T membimbing dan menuntun mahkluknya (manusia) bagaimana cara beribadah kepada ALLAH S.W.T melalui tuntunan yang di bawa oleh nabi Muhammad S.A.W dengan mensyariatkan tiga(3) cara/tahapan:

1)cara tahap syariat(islam)
2)cara tahap thoriqot(iman)
3)cara tahap hakikat(ihksan)
 cara islam(syariat) adalah merupakan landasan/langkah awal

تَـمْـحِـدٌ لاِْاِيْـيـماَنْ 
untuk menuju ke makom iman
بـَيْـنَ اْلاِسْـلَـمْ وَلْاِيْـمَانْ

ketiga cara atau tahapan tersebut diambil dari gerak-gerik secara dhohir maupun secara kata2 dan secara bathin/rohani dari kehidupan Rosulullah.
Tahapan pertama dalam menghadap/ibadah kepada ALLAH ialah اَلْـمُـحَـافَظَهْ dengan cara meniru apa yang dilakukan oleh Rosulullah dan menjaga dengan kuat dalam melaksanakan cara2 dhohir/syariat,
setelah kita membaca dua kalimat Syahadah maka laksanakan secara Istiqomah dan thumakninah,
setelah semua itu dilaksanakan dengan bersungguh-sungguh secara Istiqomah dan Thumakninah maka semua itu akan berbuah/akan naik ke makom Iman

سَـمْـرَتُلْ اِيْـمَـانْ وَلْإِِسْـلَـمْ

jadi iman itu merupakan buah dari hasil perbuatan 2 secara dhohir

Disaat kita sudah duduk di makom Iman dan di landasi dengan perbuatan dhohir secara Istiqomah
makan disaat itulah akan naik ke makom Yaqin, yang mana yaqin itu merupakan puncak dari keimanan

اَلْيـَقىِ ن ُ هُـوَدِرْوَةُالْإِيْـمَانْ قُلُّـهْ

maka disaat kita sudah duduk di makom Yaqin maka disitulah akan merasakan suatu RASA (ketenangan dan kebahagian dan takut ) dll di dalam beribadah menghadap kepada ALLAH S.W.T (inilah yang di sebut musyahadah)
disaat kita sudah betul2 masuk/duduk di makom Yaqin dan betul2 meyaqini keberadaan ALLAH dan janji2 ALLAH, maka disitu akan masuk ke makom Ihsan

الْإِحْـسَـانْ اَعْـلَادَرَجَـةِ اْلإِِسْـلَـمْ وَاْلإِيْـمَانُ وَاْلـيَقِينُ

Ihsan adalah buah/hasil dari perbuatan istiqomah yang di lakukan melalui makom islam,makom iman,makom yaqin, dan ihsan itu sendiri merupakan makom tertinggi dari ketiga makom di atas.

keberadaan iman yang ada pada diri kita  bisa bertambah dan berkurang يَـزِيْدُوَيَـغْقُـسْ
* Iman kita bisa bertambah apabila kita melaksanakan apa yang di perintah oleh ALLAH dan di Ridhoi oleh NYA
*Iman kita bisa berkurang apabila kita tidak melaksanakan apa yang di perintah oleh ALLAH atau dan pandaiyang yidak di Ridhoi oleh NYA
Ukuran bertambah/berkurangnya iman seseorang di lihat seberapa giat melaksanakan perintah ALLAH dan menjauhi apa yang di larang atau sesuatu yang tidak di Ridhoi oleh ALLAH.
yang mendorong kita untuk melasanakan perintah dan menjauhi larangannya ialah Keyaqinan (seberapa kuat keyaqinan kita kepada ALLAH) disinilah letak ukuran sebenar keimanan seseorang

عـَلَ قََـدْرِألْـيَـقِـيْـنُ

apabila kita sudah melaksanakan semua yang di perintahkan dan menjauhi semua yang di larang melalui makom yaqin di situlah yang di namakan mendapat taufik dari ALLAH.
seprti yang di katakan oleh Sayidina Ali R.A wa karromallahu wajhah

قَـَلِلٌ  مِـنَ تّـَـوْفـِـقْ خَــيْــرٌ مِــنْ كَــثِــيْرٍ مِــنَ ألْــعــقْـلِ وَالْـعِــلـْمِ

sedikit mendapat taufik dari ALLAH lebih baik dari pada orang yang banyak ilmunya dan pandai tetapi tidak mendapat taufik dari ALLAH.

APAKAH TAUFIK ITU..?
مَـاهِـيَ الـتّـَوْفِـقْ...؟

خَـلْـقُ طَـعـَةْ

taufik adalah melaksanakan ketaatan.. yaitu apabila mampu membuktikan ilmu dan kepandaianya dengan melakukan/melaksanakan perintah ALLAH dan menjauhi larangannya untuk menghadap (mengabdi/ibadah) secara Amaliah Dzohir dan hatinya selalu mersakan dan menyadari kalau dirinya mendapat taufik dari ALLAH dan di kembalikan semua itu kepada ALLAH.
seperti riwayat kanjeng sulton Auliya asy syaihk Abdul Qodir al-jailani di dalam manaqibnya mengatakan bahwa beliau sebelum melakukan sesuatu apapun, beliau sudah menyandarkan segala sesuatunya/ pasrah kepada ALLAH, dan di dalam pasrah kepada ALLAH harus sesuai dengan konsep-konsep dan tuntunan dari Nabi dan sunnah Nabi

الَـتَّـفْـوِدُوَألْـمُـوَفَـقـَهْ مَـعَ تـَبَـرِّ مِـنَ الْـحَـوْلِ وَالْـقُـوَّةَ

Apabila seseorang sudah merasa pasrah dan amal perbuatannya sudak sesuai/cocok dengan tuntunan nabi dan sunnah nabi dan aturan syariat sudah cukup...?
semua itu belum cukup/sempurna sebelum dalam dirinya di hilangkan atau membuang rasa mengaku-ngaku (merasa sudah bisa melakukan kebaikan dan merasa bisa sudah taat kepada ALLAH) dan di kembalikan lagi bahwa semua itu semata-mata berkat rahmat pertolongan dari ALLAH.

اوَّلُ الْـحِْفـدِ

awal pertolongan dari ALLAH yang di berikan kepada para walinya adalah menghilangkan/mengangkat sifat mengaku-ngaku .

APAKAH SYARIAT/ISLAM ITU ....?

مـاَهِـيَ الـشَّـرِ يْعَـهْ.....؟ الَـشََرِيْـعَـة هِـيَ الْـعِـلْـمِ  بِـلْ يَـقِيـنُ

jadi syariat itu adalah suatu ilmu yang menjelaskan atau yang mengatur secara Dzohir untuk menuju/mencapai keyaqinan contoh nya;
1)apa syarat sah nya sholat dan bagaimana syarat rukunya sholat.
2)apa syarat-syarat ihklas dan apa rukun-rukunya

APAKAH  THORIQOH/IMAN ITU...?

مَـاهِـيَ لـطَّـرِقَـهْ...؟ وَلـطَّـرِيْـقَـه هِـيَ الْـوُقُـعْ فِى عَـيْـنِ الْيَـقِـيْـنُ

jadi iman itu adalah suatu ilmu yang membahas atau yang mengatur masalah keyakinan dan cara-cara melaksanakan keyakinan itu sendiri.
di dalam melaksanakan keyakinan kepada ALLAH di dalam beribadah menjumpai apa/merasakan apa dalam malaksanakan ibadah di sisi ALLAH. itu di namakan musyahadah( ihksan/hakikat)

اَلْـحَـقِى قـَهْ هِـيَ سُـوحُـدُمَـنْ يَـتـَـوَ الله بِـرِعَيَـاتِـهِ مِـنْ عِـبـَدِ

kalau di dalam melakukan ibadahnya,sholatnya,dan dzikirnya merasa bisa melihat ALLAH(bukan berarti melihat secara dzohir/bathin)akan tetapi merasakan kekuasaan NYA  atau merasa di lihat oleh ALLAH, itu menunjukkan sudah masuk makom hakikot/ihksan.
sabda Nabi Muhammad SAW

اَنْ تَـعْـبُـوْدَاللهَ كَأَنّـَكَ تَـرَفـإِِنْ لَـمْ تَـَكُـنْ تَـرَ فَــإِنَّـهُ يَـرَ


Artinya: Engkau menyembah ALLAH seakan-akan engkau melihat NYA. jika Engkau tidak melihat NYA, maka sesungguhnya Dia selalu melihatmu

وَلَا عَـَيْـنٌ رَعَـةْ وَلَااُذُ نٌ سَـمِـعَـةْ وَلَاخَـطَــرَ عَلَاَ قَـلْـبِ بَـثَـرْ مِـنْ حَـقـَائِـقِ بَـطِـنْ

jadi musyahadah itu adalah berada di dalam hati masing-masing orang yang melakukan ibadah yang sesuai dengan Syariat ALLAH dan Ahklak beserta sunnah Rosulullah 

SYARIAT/ISLAM......?
مََـاهِـيَ شَّـرِيْـعَـهْ...؟ فـَا شّـَـرِيْـعَـهْ اَنْ تَـعْـبُـدَ

Kesimpulan dari Syariat adalah yang penting melaksanakan ibadah yang sesuai dengan syarat rukunya, maka Syariat itu suatu cara pelaksanaan yang menitik beratkan pada disiplin dhohir yang sesuai dengan syarat rukun ibadah.

THORIQOH/IMAN...?

مَـاهِـيَ الطَّـرِقَـهْ...؟اَطَّـرِقَـهْ اَنْ تَــقْـسِِـدََ

Jadi thoriqoh/iman itu adalah suatu cara yang mana cara tersebut supaya mengerti tujuan dari apa yang di lakukan.
di dalam Alqur'an Allah  telah memberi jaminan kepada manusia. Allah berfirman;

اِنَّ الـصّـَلَاةَ تَـنْـهَ عَـنِ الْـفَخْشَـاءَ وَالْـمُنْكـَر

Bahwa sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan mungkar.
kita semua sadar kalau kita sudah melakukan sholat 5 waktu, yang menjadi pertanyaan bagi diri kita... ?
*kenapa perbuatan sholat itu tidak memberi dampak terhadap kehidupan kita...?, 
*dan masih banyak orang yang berbuat maksiat dan kejahatan.....?

itu semua karena kebanyakan dari kita tidak tau tujuan ibadah itu,
Maka disinilah peran Thoriqoh/keimanan di mulai agar supaya mengerti tujuan ibadah itu dan mengerti apa yang sedang di baca dalm ibadah, 

karena kebanyakan di dalam melaksanakan ibadah hanya sekedar melepas kewajiban dan sekedar bacaan lewat dan tidak pernah risau
~ apakah ibadah kita sudah betul...? 
~ apakah ibadah kita diterima...?
penyakit inilah yang sedang menimpa kebanyakan manusia,ibadah alakadarnya dan merasa yakin ibadah nya sudah pasti diterima.
dan tidak pernah mengkoreksi 
@ bagaimanakah ibadah Rosulullah...?
@ kenapa Rosulullah dalam melakukan ibadah sampai kaki beliau        keluar darah....?
kalau semua pertanya di atas timbul dalam diri kita baru akan berusaha untuk mengerti tujuan ibadah itu sendiri
karena tujuan Thiriqoh itu
لِـيْ اِزَلَـةِ الْـحُـجُـوْبِ الـنّـَفْـسِ

tujuan dzikir Toriqoh itu untuk menghilangkan /menyingkap dinding yang ada di hati.

banyak beredar di masyarakat melarang seseorang untuk masuk Thoriqot seperti
~ jangan masuk Thoriqot nanti gila
~ jangan masuk Thoriqot karena ilmu fiqih mْu belum kuat
~ jangan masuk Thoriqot, Thoriqot itu ilmunya para wali-wali
~ jangan masuk Thoriqot cukup amalkan sholawat saja

orang yang berbicara seperti ini karena kurang paham apa yang di katakan Syariat/islam,Thoriqoh/iman, Hakekat/Ihksan.

sekarang banyak orang berbicara tentang Allah, Hari kiamat,Takdir
semua yang di bahas  adalah ilmu Thoriqoh/iman
sesuai dengan sabda Nabi

اِذَوُسّـِدَ اَمـرُ لِى غَـيْـرِ اَهْـلِ فَـنـتَادِرِسّـَاعَـهْ

kelak apabila orang bukan ahlinya dalam suatu ilmu ikut berbicara maka akan timbul kerusakan di muka bumi