Minggu, 27 November 2016

APAKAH TASYAWUF/TORIKOT ITU....?

APAKAH THASAWUF ITU ???

Apakah orang yang berpakaian compang camping, tidak pernah mandi, kuku panjang, makan seadanya ...?  Tentu bukan.. !
thasawuf adalah hati kamu bersih dari penyakit-penyakit hati
Kamu selalu mengikuti yang benar, mengikuti Alquran dan mengikuti aturan agama
Kamu selalu terlihat khusyu beribadah karena Allah swt
Dan kamu selalu sedih merenungi atas dosa-dosa kamu sepanjang masa.



 بلالتصوف أن تصفو بلا  كدر  وتتبع الحق والقرءان والدينا
وأن تُرى خاشعا لله مكتئبا   على ذنوبك طول الدهر محزونـا


PENTINGNYA THASAWUF DALAM HIDUP KITA....!
Ada sebagian penceramah yang mengatakan Sholat, puasa, Dzikir, Sholaawat dan lain-lain adalah thoriqot atau jalan mendekat kepada Allah. Seolah-olah kita tidak perlu mengambil salah satu thoriqot yang seperti kita kenal. Benarkah demikian...? 

Beberapa penceramah pernah juga mengatakan, kita sebenarnya cukup belajar ilmu fiqih. Karena amalan thoriqot atau ilmu tasawuf adalah amalan para wali. Sedangkan kita orang awam bukan wali.
 Apa hukum berThoriqot...? 
Apa beda antara Thoriqot yang berbaiat dan amalan yang diambil dari kitab atau buku tanpa bai'at...? Apakah boleh mengamalkan thoriqot lebih dari satu...?

Perlu diketahui, thoriqot itu sangat luas. Saya tekankan, tarekat tidak bisa dilepaskan dengan syariat. Sholat,zakat dan haji itu semua adalah Syariatullah. Dalam thoriqot itu disebut menjalankan Syariatullah. Yang dimaksud disini adalah Thoriqotul ihksan .yaitu Thoriqot yang mengajarkan jalan kebajikan. Jangan salah membedakan syariat dan Thoriqot.
Suatu hari, bertanya sahabat Ali kepada Baginda Nabi,Ya Rasulullah, ajari kami jalan terbaik mendekatkan diri kepada Allah. (karena pada saat bertanya ada satu keterangan tentang bab iman, Islam dan ihksan). Kata Rasulullah, bersembah sujudlah kepada Allah seolah-olah engkau melihat Allah. Bila tidak mampu melihat, merasalah dilihat dan didengar oleh Yang Maha Kuasa.
Mampukah kita menumbuhkan perasaan yang demikian dihati kita..? Saya tidak mau mengatakan orang lain, tapi saya katakan diri saya sendiri. Saya itu kalau takbiratul ihkram Allahu Akbar pada waktu itu saja ingat seolah-olah menghadap Allah. Tapi setelah membaca Iftitah, bahkan waktu membaca Al Fatihah, kadang hati dan pikiran kita terbang melayang. Tidak merasa bahwa kita sedang dilihat dan didengar oleh Allah SWT.

 Menurut syariat, salat seperti itu sudah sah. Sebab syariat hanya mengatur bagaimana wuduknya tidak batal, pakaiannya yang dipakai itu sah. Itu cukup memenuhi kriteria syariat. Sedangkan di dalam kriteria kacamata thoriqot, tidak. Thoriqot mengatur bagaimana hati kita pada waktu menghadap Allah SWT, harus bersih dari yang lain. Sehingga merasa betul-betul bersih untuk bersembah sujud. Mampukah kita waktu sujud itu merasa sebagai hamba yang fakir? Tiada yang wajib aku sembah melainkan Engkau. Dan waktu bersembah sujud merasakan kekurangan yang ada pada diri kita. Nah itulah thoriqot. Itulah yang dimaksud ihksan.
Sehingga Sayidina Ali diajar Baginda Nabi, pada waktu menanyakan cara mendekat kepada Allah Rasulullah bersabda, Pejamkan matamu duduk yang baik dengan bersila. Lalu ia ditalkin oleh baginda Nabi, Laa ilaha illallah, Laa ilaha illallah, Laa ilaha illallah Muhammadun Rasulullah, SAW. Dari situ lahirlah yang dikenal ijazah dzikir/baiat, seperti yang diajarkan Baginda Nabi SAW.
Jika saja menjalankan ilmu syariat saja sudah dianggap cukup, mana mungkin Rasulullah SAW mengajarkan hal itu kepada Sayidina Ali.karromallahu wajhah, Padahal kita tahu siapa sebenarnya Sayidina Ali maupun Sahabat yang lain.(ketinggian derajatnya disisi Allah dan Rasul-Nya) Jadi harus dipisah, mana syariat mana thoriqot.

  Dalam syariat, berwudhu hanya sampai batas berwudhu, yang memenuhi syarat dan rukunnya saja. Menjaga wudhu agar tidak batal ; kentut, atau bersentuhan dengan selain muhrimnya. Itu syariat. Thoriqot tidak...! Anda dituntut menggunakan wudhu, bukan sekedar untuk shalat. Bagaimana akhlak orang berwudhu. Ketika kita sedang mengambil wudhu itu ada akhlaknya, ada adabnya. Bisakah wudhu membuat kita malu kepada Allah bila bermaksiat. Sedangkan tidak wudhu saja kita malu bermaksiat..! apalagi menggunakan air wudhu.
Selanjutnya, yang dimaksud dengan Al Muktabarah adalah tarekat yang asalnya dari Baginda Rasulullah Saw. Ada jalurnya, istilahnya ada sanad atau silsilah. Ada tali temali, dari Baginda Nabi, sahabat lalu kepada awliya-awliya-Nya.
  Untuk pertanyaan yang terkait dengan ilmu fiqih, harus diketahui bahwa ilmu fiqih harus dipelajari terlebih dahulu oleh orang yang mau belajar ilmu Tasawuf/Thoriqot. Mereka ini hendaklah belajar ilmu syariat dulu dengan matang. Setelah itu baru melangkah ke dunia thoriqot, terus thasawufnya. Thoriqot thasawuf dan thoriqot dzikir itu hal yang berbeda. Kita harus mencapai thoriqot dzikir agar mencapai derajat Ihsan. Karena thoriqot tasawuf memerlukan orang yang alim betul dan cukup ilmunya. Kalau kita tidak mampu memahami dunia tasawuf, akibatnya bisa menyimpang. Terutama untuk memahami perkataan orang yang dekat dengan Allah (kaum Muqarabbin). Mereka ini kerap memakai bahasa yang tinggi, yang sukar dicapai pemahamannya dengan pengetahuan yang terbatas hanya syariat saja.
  Thoriqot akan menuntun kita memahami ihksan (kebaradaan diri sendiri). Dari sinilah kita belajar ilmu thoriqot. Dan kita tidak harus mengatakan bahwa ilmu thoriqot adalah ilmu wali (Itu thoriqot thasawuf), jadi thasawufnya dahulu. Kita mencapai ihsannya dahulu. Agar tidak tergolong manusia yang lalai kepada Allah TaAla, termasuk untuk menyambung hubungan antara salat Subuh dan salat Zuhur, salat Zuhur dan salat Ashar, salat Ashar dan salat Maghrib, salat Maghrib dan salat isya, kita mesti bertanya, ditengah-tengah salat itu ada apa, kita berbuat apa. Perbuatan kita itulah yang mengindikasikan apakah kita tergolong lalai atau tidak ?
Nah, thoriqot berperan disitu. Yaitu, agar ada kaitan misalnya antara subuh dan zuhur. Lantas menerapkannya pada realitas perbuatan kita terhadap sesama. Jangan sampai kita hanya merasa dilihat dan didengar oleh Allah hanya pada saat mengucap Allahu Akbar waktu takbiratul ihram pada sholat saja.
Kalau anda bertanya apa hukum berthoriqott, ada dua jawaban. 
1) hukumnya sunah kalau dasarnya berthoriqot dengan dasar supaya banyak zikir. 
2) hukumnya wajib kalau dasarnya untuk menjauhkan hati dari sifat yang tidak terpuji, seperti lalai kepada Allah hingga menimbulkan takabur, sombong, hasut, dan dengki dan semua yang berkaitan dengan penyakit hati,

   Baiat dalam tarekat adalah mengambil janji/sumpah setia. 
Sebagaimana sahabat mengambil janji terhadap Nabi SAW. 
1) yaitu berjanji meninggalkan perbuatan dosa besar dan mengurangi dosa kecil. Mengapa kita mengurangi dosa kecil...?  Karena dosa kecil bermula dari kelalaian dan menganggap enteng/remeh sesuatu amalan. Sehingga disebut mengurangi, supaya kita betul-betul tidak lalai, walaupun sekecil apapun. 
2)yaitu berjanji taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Awliya-Nya (para Wali Allah) dan Ulamak-Nya, mentaati Al Quran dan Hadist, mentaati negara dan pemerintahan. Ini yang disebut baiat. Baik antara pribadi dan Tuhannya, maupun pribadi dan Rasul-Nya SAW.
Mengamalkan awrad atau wirid sebaiknya yang di ijazah kan, tidak secara Ikhbar atau pemberitaan (kabar, seperti yang tertulis di kitab/buku-buku). Apalagi tidak melalui talkin (pengajaran langsung) dan baiat, 
dan tidak melalui guru yang jelas.
Sedangkan suatu ijazah doa atau pun membaca kitab tanpa guru, kadang akan salah memaknai nya. Termasuk tujuan yang ada didalam kitab. Karena kita hanya memahami secara pribadi, sebatas kemampuan sendiri. Maka sebaiknya melalui guru supaya kita tahu benar maksud-maksudnya (atas apa yang tertulis tertuang dalam kitab tersebut). 
Kalau dasarnya ada kemampuan, mengamalkan dua thoriqot sekaligus silahkan saja. Kalau tidak, tolong satu saja, karena itu lebih baik. Sebab thoriqot mempunyai Madad (pertolongan) dan asrar (rahasia) yang berbeda. Dikhawatirkan, dua magnet yang berbeda ini menimbulkan ketidak stabilan. Itulah maksud para ulama menduakan Thoriqot.

Jumat, 25 November 2016

NUR ILAHIYAH

NUR ILAHIYAH
Nur cahaya yang menguatkan hati dan melemahkan nafsu:
1)Annur : "Nur yakin dan Tauhid
2)Jundul Qolbi : "Tentara Hati
3)"dholmah :"Kegelapan syirik dan Prasangka
4)"Jundun Nafsi :"Tentara Nafsu
Allah SWT berkuasa mengkurniakan nur cahaya untuk menerangi hati kepada sesiapapun,cahaya itu pasti memberi kemenangan kepada hambanya itu.dan tidak sempurna nur kecualidenagan membasmi tiga kegelapan yang di kenali dengan: "AMDADUD DHOLAM"
1)Hawa nafsu yang bercampur ilmu dan takwil
2)Waham(kesalahan)yang melamahkan keyakinan
3)Syahwat yang mengalahkanya
Dan tidak terputus perkara ini kecuali dengan mengisbatkan segala yang berlawanan yang di kenali (AMDADUL ANWAR)Yaitu:
1)Yakin yang tidak di sertai dengan prasangka
2)Ilmu yang tidak di campuri oleh hawa nafsu
3)Ilmu yang tidak di rosakkan oleh sangkaan dan keraguan
Nur(cahaya yang terang)itu sebagai tentara yang membantu hati,manakala gelap itu tentara yang membantu hawa nafsu. Maka apabila Allah akan menolong seorang hambanya, Ia akan di bantu-NYA dengan NUR ILAHI dan di hilangkan bantuan kegelapan dan kepalsuan

KISAH SEORANG AHLI IBADAH

KISAH AHLI IBADAH TERTIPU DENGAN INADAHNYA

Diriwayatkan dari sahabat Jabir radliyallahu’anhu, beliau berkata; Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mendatangi kami kemudian beliau bersanda:
Jibril berkata; Wahai Muhammad, demi Dzat yang telah mengutusmu dengan membawa kebenaran, sesungguhnya Allah Azza wa Jall memiliki seorang hamba dari hamba-hambanya yang l…ain, hamba tersebut telah beribadah kepada Allah Azza wa Jall selama lima ratus tahun di puncak sebuah gunung di sebuah pulau yang dikelilingi dengan lautan yang lebar dan tinggi gunung tersebut adalah tiga puluh dzira’.
Jarak dari setiap tepi lautan yang mengelilingi gunung tersebut adalah empat ribu farsakh. Di gunung tersebut terdapat sebuah mata air yang selebar beberapa jari, dari mata air tesebut mengalir air yang sangat segar dan berkumpul ke sebuah telaga dikaki gunung.
Disana juga terdapat pohon-pohon delima yang selalu berbuah setiap hari sebagai bekal hamba tersebut beribadah kepada Allah dihari-harinya. Setiap kali menjelang sore, hamba tersebut turun dari atas gunung menuju telaga untuk mengambil air wudlu, sekaligus untuk memetik buah delima lalu memakannya, baru kemudian mengerjakan shalat.
Setelah usai shalat, hamba tersebut selalu berdo’a kepada Allah Ta’ala, supaya kelak ketika ajalnya datang menjemput, dia dicabut nyawanya dalam keadaan sujud kepada Allah dan dia juga berdo’a supaya setelah kematiannya, jasadnya tidak dirusakkan oleh bumi dan oleh apapun juga sampai datangnya hari kebangkitan.
Jibril berkata; Allah Ta’ala mengabulkan semua do’a-do’a sang hamba. Kemudian kami melintasi hamba tersebut, ketika kami turun dan naik lagi, kami menemukan sebuah pengetahuan bahwa; Nanti pada hari dibangkitkan, hamba tersebut akan dihadapkan pada Allah Ta’ala, kemudian Allah Ta’ala akan bersabda;
“Masukkan hambaku ini ke surga dengan sebab rahmat-Ku”.
Hamba tersebut berkata; “dengan sebab amalku Ya Rabb”.
Allah bersabda; “Masukkan hambaku kesurga dengan sebab rahmat-Ku”.
Sekali lagi hamba tersebut berkata; “dengan sebab amalku Ya Rabb”.
Kemudian Allah Ta’ala bersabda; “Sekarang coba timbang amal hambaku ini dengan nikmat yang telah aku berikan kepadanya”.
Dan ternyata setelah ditimbang, nikmat penglihatan yang telah diberikan Allah kepada hamba tersebut, menyamai dengan timbangan amal ibadah yang telah dilakukannya selama lima ratus tahun. Dan masih tersisa anggota tubuh lain yang belum ditimbang, sedangkan amal hamba tersebut ternyata sudah habis.
Kemudian Allah Ta’ala bersabda; “sekarang masukkan hambaku ini ke neraka”
Dengan perintah Allah tersebut, kemudian para malaikat menggiring hamba ke neraka. Tiba-tiba ketika akan digiring ke neraka, hamba tersebut berteriak sambil menangis;
“Ya Rabb……Masukkan aku ke surga dengan rahmat-Mu”.
Kemudian Allah Ta’ala bersabda kepada para Malaikat; “Tahan dulu wahai malaikat, dan bawa kesini”.
Hamba tersebut lalu dibawa oleh para malaikat kehadapan Allah Ta’ala. Kemudian Allah Ta’ala bersabda;
“Wahai hambaku, siapakah yang telah menciptakanmu yang sebelumnya kamu bukan apa-apa??”
Hamba tersebut menjawab; “Engkau Ya Rabb”.
Allah Ta’ala bersabda; “siapakah yang telah memberikan kekuatan kepadamu, sehingga kamu mampu beribadah kepadaku selama lima ratus tahun??”
Hamba menjawab; “Engkau Ya Rabb”.
Allah Ta’ala bersabda: “siapakah yang telah menempatkanmu disebuah gunung yang berada ditengah-tengah laut yang luas, mengalirkan dari gunung tersebut air yang segar sedangkan di sekelilingnya adalah air yang asin, yang menumbuhkan buah delima setiap malam yang seharusnya hanya setahun sekali berbuah, serta siapa yang telah memenuhi permintaanmu, ketika engkau berdo’a supaya dimatikan dengan cara bersujud??
Hamba tersebut menjawab dengan wajah menunduk malu dan bersuara pelan; “Engkau Ya Rabb”.
Allah Ta’ala bersabda: “itu semua tak lain adalah atas berkata rahmat-Ku, dan dengan rahmat-Ku juga engkau Aku masukkan surga”.
Kemudian Allah Ta’ala bersabda kepada para malaikat; “masukkan hambaku ini ke surga, engkau adalah sebaik-baik hamba wahai hamba-Ku”.
Dan dimasukkanlah hamba tersebut kedalam surga berkat rahmat Allah Ta’ala.
Kemudian Jibril berkata; “Sesungguhnya, segala sesuatu itu adalah berkat rahmat Allah wahai Muhammad”.
*Diterjemahkan secara bebas dari hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Jabir dan terdapat dalam kitab Jami’ al-Kabir Imam As-Suyuthi juz 1 hlm 12093 hadits nomor 12200……semoga bisa menjadi pelajaran bagi kita semua. Seperti biasa, jika berkenan mohon untuk disebar luaskan, supaya saldo amal kembali bertambah…”_^
اللهم صل و سلم على حبيبنا و قرة أعيننا سيدنا محمد و على أله وأصحابه أجمعين
Allahummaghfirlii….Allahummaghfirlanaa….Allahummaghfirlanaa wal Muslimiin.

Senin, 21 November 2016

MAKNA BACAAN TAHYATUL AWAL


Tentang Makna Bacaan Tasyahud (Tahiyyatul Awal)


Sayyidil Habib Ali Aljufri:

tentang Makna bacaan Tasyahhud (tahiyyatul awal)

ketika engkau sedang dalam duduk bertahiyyat. Perhatikanlah bacaannya, Itu bukan bacaan sembarangan, itu kalimat yang terlontar dalam peristiwa agung yaitu pertemuan antara Allah dan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa alaa aalihi wasallam (saat isra mi'raj) Dengan mendalami maknanya, kamu akan terbimbing dalam kehidupan orang orang shalih,
di saat Nabi berkata,
التحيات ألمباركات الصلوات الطيبات لله
“Attahiyyatul mubaarokaatush sholawaatut thoyyibaatu lillah –
Segala penghormatan yang diberkahi dan segala rahmat yang teramat luhur adalah milik Allah semata”

Setelah Rasulullah mengatakan hal itu,
Allah menyampaikan salam kepada beliau
السلام عليك أيها النبي ورحمة الله وبركاته
Assalaamu ‘alaika ayyuhannabiyyu wa rahmatullahi wabarokatuh”
salam sejahatera semoga tercurah kepada mu, wahai Nabi Muhammad..semoga juga Rahmat Allah dan Berkah-Nya pun tercurah kepadamu wahai Nabii,

Nabipun menjawab:
السلام علينا وعلى عباد الله الصالحين
semoga salam sejahtera tercurah kepada kami dan hamba-hamba-Mu yang sholeh.
Habib Ali menjelaskan, ‘Perhatikan lah, Dalam keluhuran dan ketinggian derajatnya, beliau tak melupakan ummatnya, terutama orang orang shalih agar mereka turut merasakan kebahagiaan sebagaimana yang beliau rasakan.
Allah mengabulkan doa Nabi dengan menyerahkan kunci pintu syurga bagi Rasulullah dan semua orang beriman..

Apakah kunci Surga? Kunci Untuk Memasuki Syurga Adalah Dengan Mengucap Dua Kalimah Syahadah dan Bertakwa Kepada Allah SUbhanahu WaTa'Ala.
أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا رسول الله اللهم صل على سيد نا محمد
ASYHADU AN LA ILAHA ILLALLAH WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN RASULULLAH.
aku (bersaksi) bahwa tak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau ya Allah, dan aku (bersaksi) sesungguhnya Nabi Muhammad adalah utusan-Mu Ya Allah. –

Rasulullah SAW bersabda :“Tidaklah seorang hamba yang bertemu Allah dengan dua kalimah ini tanpa sebarang syak melainkan akan masuk syurga.” (Hadis Riwayat Muslim),

Sabda baginda lagi dalam hadits yang lain yang bermaksud :“Barangsiapa yang bersaksi bahawa tiada Tuhan melainkan Allah dan ba­hwa Muhammad adalah utusan Allah, nescaya Allah haramkan ke atasnya neraka.” (Hadis Riwayat Muslim)..
Dan sebagai penutup dibacalah sholawat..
الله اللهم صل على سيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمد
Allahumma salli 'ala Sayyidina Muhammad. Wa'ala a-li Sayyidina Muhammad.
Ya Allah, limpahkan shalawat-Mu kepada Nabi Muhammad dan limpahkan juga shalawat kepada keluarga Nabi Muhammad”

Shalawat adalah doa atau seruan kepada Allah. Membaca shalawat untuk Nabi, memiliki maksud mendoakan atau memohonkan berkah kepada Allah untuk Nabi. sholawat adalah salah satu bagian dari keimanan seorang muslim / muslimat. ALLAH berfirman:
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيْمًا“
Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah untuk Nabi dan ucapkanlah salam kepadanya.” (Al-Ahzab: 56)
Yang dimaksud dengan Allah bershalawat kepada Nabi adalah bahwa Allah memberinya rahmat. Dan rahmat itu adalah kasih sayang yang selalu mendampingi beliau.

Sedangkan makna para malaikat bershalawat kepada nabi adalah memintakan ampunan.
Sedangkan bila shalawat itu dari orang mukmin maka maknanya adalah doa supaya beliau diberi rahmat dan kasih sayang.yang nantinya rahmat, ampunan dan doa akan kembali ke si pengamal sholawat tersebut.

RASULALLAH Shallallahu alaihi wa alaa aalihi wasallam BERSABDA :“Bacalah kamu sekalian sholawat kepada-ku, maka sesungguhnya bacaan Sholawat kepada-ku itu menjadi penebus dosa dan pembersih bagi kamu sekalian dan barang siapa membaca Sholawat kepada-ku satu kali, Allah membalas kepadanya sepuluh kali (RIWAYAT IBNU ABI ‘ASHIM DARI ANAS bin’ MALIK)
Adalah sangat baik dan bermanfaat, jika dalam shalat, kita meresapi bacaan bacaan itu,

Senin, 14 November 2016

PERSYARATAN MENULIS AZIMAT

PERSARATAN MENULIS AZIMAT MENURUT SYAIKH AL JAUHARI

kitab hasyiyah assyarwani alat tuhfah juz 1 hal 149 syameela
syaikhuna aljauhari mengutip riwayat dari guru2nya,beliau mengatakanseseorang penulis azimat harus memenuhi beberapa syarat diantaranya :
1=dalam keadaan suci
2=ditempat yang suci
3=jangan sampai meragukan keshohihannya/khasiatnya alias harus mantap
4=jangan ada tujuan sekedar mencoba
5=jangan melafadzkan pada huruf2 yang tertulis
6=harus dijaga,jangan sampai terlihat orang lain,atau terlihat binatang tak berakal atau bahkan terlihat oleh penulis sendiri setelah azimat tersebut selesai ditulis
7=harus dijaga jangan sampai terkena sinar matahari
8=ketika menulis diniati hanya mencari ridlo ALLOH semata
9=jangan diharokati
10=huruf2nya jangan sampai ada yang terhapus
11=jangan diberi titik pada huruf2nya
12=jangan sampai terkena debu
13=jangan sampai tersentuh barang2 dari besidan sebagian ulama’ menambahkan satu syarat lagi untuk keshohihan/keampuhan azimat yaitu jangan ditulis setelah ashar dan ada satu syarat lagi untuk menambah daya magicnya,yaitu penulis harus dalam keadaan puasa
WALLOHU A’LAM

PERBEDAAN NYAWA DAN SUKMA

PERBEDAAN NYAWA DAN SUKMA

Nyawa dibagi menjadi 3
1= sultoniyyah
2=ruhaniyyah
3= jismaniyyah
sultoniyyah bermuara dihati,ruhaniyyah bermuara didada sedangkan jismaniyyhmuaranya diantara daging dan darah dan diantara tulang dan otot-otot
jika ditanya,ketika seorang hamba tidur,apakah nyawanya keluar apa tidak?
jika ada yg menjawab keluar,maka salah,dan jika ada yg menjawab tidak keluar maka juga salah

jawaban yg tepat adalah,ketika seorang hamba tidur maka ruh jismaniyyahnya keluar bersama akal dan berkeliling antara langit dan bumi,jika akal bersama ruh jismani maka seorang hamba tersebut tau/mengerti apa yg ia lihat dalam mimpi,dan jika akal tidak bersamanya maka seorang hamba tersebut tetap bisa melihat mimpi akan tetapi tidak faham

Jika ditanya apa bedanya nyawa dan sukma?
Maka kami jawab,nyawa itu tidak bisa keluar masuk sedangkan sukma bisa keluar masuk
Jika sukma keluar maka seorang hamba tertidur/tak sadarkan diri dan jika nyawa keluar maka seorang hamba tadi jadi meninggal
Durrotun nasihin hal 177 cetakan darul fikr di bab bayanu alamil mauti

MUTIARA INDAH HATIM AL A'SHOM

Syaqiq al-Balkhi bertanya kepada muridnya, Hatim al-A’shom, “Berapa lama kamu telah belajar kepadaku?” Hatim menjawab: “Sudah selama 33 tahun.” Syaqiq bertanya lagi, “Apa yg kamu pelajari dariku selama itu?” Hatim menjawab, “Ada delapan perkara.” Syaqiq berkata, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Aku habiskan umurku bersamamu selama itu dan kamu tidak belajar kecuali delapan perkara?!” Hatim menjawab, “Guru, aku tidak belajar selainnya. Sungguh aku tidak bohong.” Syaqiq kemudian berkata lagi, “Coba jelaskan kepadaku apa yg sudah kamu pelajari.”
Murid (Hatim) menjawab:
Pertama, “Ketika aku memperhatikan makhluk yg ada di dunia ini, aku melihat masing2 mempunyai kekasih, dan ia ingin selalu bersama kekasihnya bahkan hingga ke dalam kuburnya, tetapi ketika dia sudah sampai di kuburnya, kekasihnya justru berpaling darinya. Ia pun merasa kecewa karena kekasihnya tidak lagi dapat bersama masuk ke dalam kuburnya dan berpisah dengannya. Karena itu aku ingin menjadikan amal kebaikan yg menjadi kekasihku, sebab jika aku masuk kubur, maka semua amal kebaikan akan ikut bersamaku.”
Kedua, “Saya memperhatikan (merenungkan) firman Allah:
وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى (٤٠)فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى (٤١)
“Dan adapun orang2 yg takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (Qs. An-Nazi’at: 40-41)
Maka saya berusaha keras unt meneguhkan diri dalam menundukkan hawa nafsu, hingga nafsu saya mampu tegar atau tenang (tidak goyah) diatas ketaatan kepada Allah.”
Ketiga, “Saya memperhatikan manusia, dan saya amati masing2 memiliki sesuatu yg berharga, yang dia menjaganya agar barang tersebut tidak hilang. Kemudian saya membaca firman Allah:
مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ بَاقٍ
“Apa yg di sisimu akan lenyap, dan apa yg ada di sisi Allah adalah kekal.”(Qs. An-Nahl: 96)
Oleh karena itu, apabila setiap aku memiliki sesuatu yg berharga dan bernilai, segera saja aku serahkan kepada Allah, agar milikku terjaga bersama-Nya dan tidak hilang (agar kekal di sisi Allah).”
Keempat, “Saya memperhatikan manusia dan saya ketahui masing2 mereka membanggakan hartanya, pangkatnya (kedudukannya) dan nasabnya (keturunannya). Kemudian aku memperhatikan firman Allah:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya org yg paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah org yg paling taqwa diantara kamu.” (Qs. Al-Hujurat: 13)
Maka aku berbuat dalam koridor takwa (aku kerjakan konsekuensi takwa), hingga menjadikan aku di sisi Allah, sebagai org yg mulia.”
Kelima, “Saya memperhatikan manusia dan (saya tahu) mereka saling mencela dan mengumpat antara satu dan lainnya. Saya tahu masalah utamanya di sini adalah sifat iri hati (dengki). Maka saya kemudian memperhatikan firman Allah:
نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
“Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia.” (Qs. Az-Zukhruf: 32)
Maka saya kemudian meninggalkan sifat iri hati dan menghindar dari banyak org, karena saya tahu bahwa pembagian rejeki itu benar2 dari Allah, yg menjadikanku tidak patut memusuhi dan iri kepada org lain.”
Keenam, “Ketika kupandangi makhluk yg ada di dunia ini, ternyata mereka suka berbuat kedurhakaan dan berperang satu sama lain, akupun kembali kepada firman Allah:
إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا
“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, Maka anggaplah ia musuh(mu).” (Qs. Fathir: 6)
Maka aku tinggalkan permusuhan diantara manusia, karena itu setan kupandang sebagai musuhku satu-satunya dan akupun sangat berhati-hati kepadanya, karena Allah menyatakan setan adalah musuhku.”
Ketujuh, “Saya memperhatikan manusia, maka saya melihat masing2 diantara mereka memasrahkan jiwanya dan menghinakan diri mereka sendiri dalam mencari rezeki. Bahkan ada diantara mereka yg berani melihat kepada firman Allah:
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأرْضِ إِلا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا
“Dan tidak ada satu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yg menanggung rizkinya.” (Qs. Hud: 11)
Saya kemudian menyadari bahwa saya adalah salah satu dari makhluk melata, sehingga Allah pasti akan menanggung rezekinya. Maka saya menyibukkan diri dengan apa yg menjadi hak Allah dan sy tinggalkan hak sy atas Allah. (Saya meninggalkan apa-apa yg tidak dibagikan kepadaku).”
Kedelapan, “Sy memperhatikan manusia, maka saya lihat masing2 dari mereka menyerahkan diri (bertawakkal) kepada sesama makhluk (org ataupun barang). Ada yg menyandarkan hidupnya kepada sawah ladangnya, sebagian karena perniagaannya, sebagian karena hasil karya produksinya, sebagian lain karena kesehatan badannya dan simpanannya/tabungannya. Maka saya melihat kepada firman Allah:
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah niscaya Ia akan mencukupi (keperluan)-nya.” (Ath-Thalaaq: 3)
Maka saya kemudian menyerahkan diri dan mempercayakan semuanya kepada Allah karena Dia akan mencukupi segala keperluanku.
Mendengar pernyataan2 Hatim, sang guru yaitu Imam Syaqiq al-Balkhi mendo’akannya, “Semoga Allah memberi berkah kepadamu…!” Aamiin
Wallohu a’lam